Press Release

Lampu Kuning Sepakbola 2026

Tahun 2026 telah berjalan satu bulan penuh, normalnya tahun baru dihadapkan dengan suatu harapan baru yang tentu harapan baik. Namun yang terjadi justru sebaliknya, tidak sedikit insiden yang terjadi dalam sepakbola Indonesia. Dan jika dilihat dari sisi pemain sepakbola Indonesia, akan ada yang beranggapan ini menjadi sudut pandang yang subjektif, tapi bukankah pemain merupakan aktor utama dalam sepakbola?

Sudut pandang kami ialah berkaca bagaimana jika seorang pemain memiliki suatu kesalahan, maka sanksi yang diterima diproses begitu cepat. Di luar dari tekanan profesi kami yang menuntut untuk selalu dalam performa terbaik seakan tidak ada jeda untuk rehat. Tindak tanduk kami disorot secara penuh dalam 90 menit pertandingan, dan seiring berkembangnya zaman, kehidupan di luar sepakbola kami juga dimonitor begitu banyak pasang mata. Namun yang sering urung tidak disadari, jangka waktu karir kami tidak panjang, dibandingkan dengan profesi lainnya, secara umum mungkin hanya 1/3 jangka waktu usia kerja kami.

Kami menyadari, banyak di antara kami yang terkadang menunjukan hal yang tidak sesuai dengan kaidah profesional olahraga itu sendiri, dan sebagai asosiasi pemain, kamipun menyayangkan hal itu. Bukan hal yang patut diulang, oleh siapapun pemain itu sendiri, namun “hukuman” bagi mereka terasa begitu instant dan menjerakan, hukuman seumur hidup. Namun perlu dilihat, mereka yang menerima itu mayoritas yang hidupnya hanya sepakbola, tanpa sepakbola tidak ada asap yang mengepul di dapur.

Namun instan dan menjerakan hukuman yang diterima pesepakbola tidak linier dengan jika hak-hak pesepakbola belum terpenuhi. Contohnya, masih terdapat lebih dari 120 kasus yang menggantung di NDRC Indonesia dengan total lebih dari 7 Miliar Rupiah hak-hak pemain yang ditagihkan belum mendapat kepastian hukum. Ataupun bagi mereka yang telah memenangkan langkah hukum, eksekusinya juga memakan waktu yang tanpa pasti.

Ketimpangan inilah yang kemudian melahirkan satu kenyataan pahit, banyak pemain tak berdaya menghadapi nasib kariernya sendiri. Ketika hukuman berat dijatuhkan, mereka seringkali hanya bisa menerima, bukan karena tak mau berubah, melainkan karena tidak diberi ruang dan kesempatan untuk memperbaiki diri. Padahal, dengan keringanan yang disertai pembinaan dan edukasi, banyak yang masih bisa bangkit dan menjadi lebih baik. Di sisi lain, demi menaikkan ‘harga jual’, tak sedikit yang rela bermain di kompetisi level lebih tinggi tanpa menerima gaji, hanya disediakan mess dan makan, seakan pilihan lain tak tersedia. Kedua kenyataan ini menunjukkan kesamaan yang jelas: Pemain kehilangan kendali atas masa depan profesionalnya.

Contoh lainnya ialah yang paling menyedihkan, tidak ada pembelaan sedikitpun bagi pesepakbola yang hak nya tertunggak, justru klub tersebut diupayakan untuk tetap berkontestasi atas nama profesionalitas. Dan puncaknya, klub tersebut tetap berkompetisi dengan merekrut pesepakbola tanpa imbalan, inikah profesionalitas yang diperjuangkan itu?

Dalam situasi ini kami semakin menyadari, sepakbola di Indonesia belum benar-benar menjadi “rumah” bagi para pemain nya, belum ada ruang yang kuat bagi pemain menyatakan sikapnya. Bukankah prinsip dasar profesionalitas ialah yang dapat menghargai manusia secara seadil-adilnya?

The last but not least, untuk para pemain di seluruh Indonesia, jaga profesi ini dengan baik, berlaku sportif dan profesional dalam setiap kesempatan yang kita dapatkan. Nilai profesi ini ditentukan oleh kita sendiri, jika kita tidak bisa menilai diri kita dengan baik, maka perubahan yang seharusnya ada ditangan si pemilik profesi itu akan terus bergantung kepada pihak lain.

Yang bisa kita lakukan ialah kembali kuatkan rasa solidaritas diantara pemain itu sendiri, karena setiap pemain di berbagai level akan memiliki perannya masing-masing, jika salah satu peran tersebut ada yang tidak berjalan, maka selamanya nasib kita bukan ditentukan oleh kita sendiri. Sampaikan setiap suara dari masing-masing diri kita, karena itu akan membuat kuat sebagian dari kita yang lainnya, terutama bagi suara mereka yang gaung nya tidak pernah terdengar.

Salam hangat,

APPI

NEWS AND UPDATES