News

Mind The Gap

“Ketika seorang atlet sepakbola berusia 20 tahun, mereka bisa melakukan apa saja dalam sepakbola, namun ketika berusia 35 tahun, karir seorang atlet sepakbola telah selesai”-

Giorgio Chiellini –

Giorgio Chiellini, telah berusia 34 tahun, dan telah mencatatkan 500 penampilan bersama tim nya, Juventus, dan kini ia meraih gelar sarjana dalam bidang ekonomi dan kemudian menjadi master dalam administrasi bisnis di Universitas Turin. Karena menurut Chiellini sangat penting bagi pesepakbola untuk menyiapkan kehidupan paska-karir sebagai seorang atlet sepakbola profesional.

Tidak semua mantan pesepakbola dapat menemukan karir di sepakbola, seperti menjadi Pundit/komentator, Pelatih, Manajemen Tim, atau bahkan kerja di Federasi. Entah tidak beruntung atau memang bukan pilihan mereka bekerja di dunia sepakbola lagi.

Kita bisa melihat beberapa contoh, mantan kapten klub satu kota Milan, AC Milan dan Internazionale Milan, Paolo Maldini dan Javier Zanetti masing-masing kini bekerja dalam jajaran manajemen tim, tidak tanggung-tanggung posisi yang diemban ialah Wakil Presiden. Atau  legenda pesepakbola Prancis yang sama-sama masih dalam lingkaran sepakbola namun berbeda jenis pekerjaan, Zinedine Zidane menjadi pelatih dan Michael Platini yang pernah menjadi Presiden UEFA. Kemudian Del Piero yang menjadi Pundit di Italia.

Namun kita juga dapat melihat contoh lainnya seperti George Weah dan Hakan Sukur yang menjadi politisi, Gaizka Mandieta menjadi Musisi. Masing-masing dari mereka ada yang sukses dengan karir baru nya atau justru menjadi tenggelam karena terlibat konflik.

Akan hal ini Chiellini memgingatkan kepada pesepakbola di seluruh Dunia agar mereka memikirkan masa depan mereka setelah tidak lagi berkarir menjadi pemain profesional. Dan Asosiasi Pemain memiliki peran cukup vital dalam membantu pemain untuk mempersiapkan hal tersebut. Seperti contoh PFA Australia yang mempekerjakan karyawannya berasal dari ex-player. Atau kemampuan manajerian menjadi manajemen tim juga membutuhkan skill tersendiri dan dibutuhkan edukasi formal bagi pesepakbola jika ingin memilih jalur dibelakang layer seperti manajemen klub, bekerja di federasi, ataupun di Asosiasi Pemain.

FIFPro sendiri kini telah membjuat berbagai program dengan bekerja sama dengan berbagai instansi Pendidikan untuk memberikan pelayanan Pendidikan formal kepada para pesepakbola guna mendapatkan kesempatan belajar formal agar mereka lebih siap dalam mempersiapkan kehidupan paska karir sebagai pesepakbola profesional.

 

Bagaimana dengan Indonesia?

Hal ini dapat terwujud dengan baik secara berkala namun dengan dukungan semua elemen. Dari pesepakbola itu sendiri yang memiliki keinginan kuat untuk menempuh Pendidikan formal, para instansi Pendidikan yang dapat menyediakan program khusus bagi para atlet dikarenakan waktu dan kondisi seorang atlet aktif tidak dapat disamakan dengan pelajar lainnya, serta para stakeholder terkait seperti klub yang memberikan izin kepada pesepakbola nya untuk membagi sedikit waktunya untuk belajar, serta federasi dan pemerintah yang dapat memberikan dukungan dalam bentuk apapun.

( Source : https://fifpro.org/news/giorgio-chiellini-interview/en/)

NEWS AND UPDATES

Mind The Gap

“Ketika seorang atlet sepakbola berusia 20 tahun, mereka bisa melakukan apa saja dalam sepakbola, namun …

Read More