Exco

Logika Terbalik

“Saling menguatkan dalam dalam sebuah kelompok adalah hal yang sangat wajar, memang demikianlah seharusnya. Yang tidak wajar itu ketika menguatkan dengan mengunakan logika yang terbalik”.

Semalam saya mendapat kiriman sebuah tulisan dari salah satu sahabat. Sebuah tulisan yang sejujurnya dari judulnya saja, menurut saya sudah sangat menarik. Apalagi ditulis oleh seseorang yang dengan segudang pengalamannya, menurut saya seharusnya cukup pandai dalam menempatkan diri, dan menyikapi sebuah permasalahan. Oleh karena itu saya pun bersemangat untuk segera membacanya.

Namun sayang, hingga pada akhir kalimat dari tulisan tersebut, saya tidak menemukan korelasi dari isi tulisan dengan substansi dari isu yang tengah coba untuk ditanggapi oleh si penulis. Dan oleh karena itu sayapun harus menelan kekecewaan.

Keinginan saya untuk membaca sebuah tanggapan berkelas, dengan analisa tingkat tinggi tentang sebuah permasalahan, harus saya kubur dalam-dalam. Yang saya dapatkan hanyalah sebuah tulisan yang didasari oleh kebencian, kekhawatiran dan ketakutan yang terlalu mendalam, sehingga membuat isi dari tulisan tersebut menjadi tendensius.

Lebih menyedihkan lagi, saya tidak menemukan penjelasan di dalam tulisan, yang menguatkan teori yang dijadikan oleh penulis, sebagai judul dari tulisan itu sendiri.

Tulisan tersebut berjudul “Pemain Itu Ada, Jika Klub Ada. Boikot Alat Politik ?”, yang ditulis oleh katakanlah si Om. Sebuah catatan yang menurut saya dibuat berdasarkan logika yang coba untuk dibalik.

Jika argumentasi yang digunakan sebagai penguat judul tulisan, hanyalah “Pemain tidak dapat disebut profesional jika tidak ada klub yang mengontraknya”. Maka jawaban sangat sederhananya adalah, “Apakah klub bisa dikatakan profesional dan dapat menjalankan roda bisnisnya jika tidak ada pemainnya?”. Selesai masalah.

Saya tidak sedang ingin berkata bahwa pemain bisa semena-mena terhadap klub, atau klub dapat semena-mena terhadap federasi, sama sekali tidak. Ini menjadi menarik, mengingat dikarenakan argumentasi yang dangkal tadi, saya malah jadi ingin mempelajari tentang bagaimana sejarah sepak bola itu sendiri.

Sejauh apa yang saya tahu (monggo dikoreksi jika saya salah). Sejarah mencatat jika sebagian besar berdirinya sebuah klub sepakbola, diawali dari sekupulan pesepakbola yang merasa memiliki kesamaan pemahaman dan idealisme. Dimana berdasarkan persamaan tersebutlah kemudian mereka membentuk sebuah klub.

Sebagai contoh Persija Jakarta. Persija lahir dengan nama Voetbalbond Indonesische Jacatra (VIJ). VIJ sendiri lahir karena sikap diskriminatif, atau rasis kaum kolonial terhadap pribumi. Sehingga pada akhirnya pesepakbola pribumi tersebut berkumpul dan membentuk klub sepakbola sendiri, dan memberi nama Voetbalbond Indonesische Jacatra, atau sekarang menjadi Persija Jakarta.

Begitu juga terbentuknya klub-klub sepakbola lain di Republik ini, yang asal-usul berdirinya kurang lebih sama dengan gambaran yang terjadi di Jakarta.

Setali tiga uang dengan sejarah berdirinya PSSI sebagai induk organisasi.

Pada tanggal 19 April 1930, SIVB (Persebaya) bersama dengan VIJ (Persija Jakarta), BIVB (Persib Bandung), MIVB (PPSM Magelang), MVB (PSM Madiun), VVB (Persis Solo), dan PSM (PSIM Yogyakarta) berkumpul di gedung Societeit Hadiprojo Yogyakarta untuk menggagas berdirinya PSSI (Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia), yang kemudian berubah menjadi nama Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia dalam kongres PSSI di Solo 1950.

Catatan sejarah diatas, dengan sendirinya mengugurkan teori Si Om tadi tentang, “Pemain Itu Ada, Jika Klub Ada. Klub Itu Ada, jika Federasi Ada. Dan seterusnya, dan seterusnya”

Sekali lagi saya tidak sedang ingin berkata, bahwa pemain bisa semena-mena terhadap klub, atau klub dapat semena-mena terhadap federasi. Karena idealnya pemain, klub dan federasi seharusnya berjalan beriringan, bergandengan tangan, serta bersinergi secara baik.

Ketiga unsur tersebut dibantu oleh suporter, diharapkan untuk menjalankan fungsi kontrol dengan saling mengawasi, saling memberikan kritik serta masukan yang sifatnya membangun, antara satu dengan lainnya. Karena hanya dengan begitu sepakbola sebuah negara akan berkembang menjadi lebih baik.

Respon deklarasi APPI yang disampaikan si Om, melalui catatannya tersebut malah memberikan kesan jika si Om dan kelompoknya tengah dalam keadaan panik. Kepanikan yang tanpa disadari telah membuat si Om melakukan sebuah kesalahan yang terlalu mendasar.

Menyerang individu-individu pemimpin APPI, tanpa menanggapi substansi dari apa yang diperjuangkan oleh organisasinya (menolak turnamen, dan meninginkan liga) jelas bukan sebuah respon yang berkelas.

Disini terlihat jelas jika si Om tengah gelisah. Sebuah kesalahan elementer, dari seseorang yang secara tidak langsung melalui paragraf (Apa yang sudah diberikan si **, **, dan lainnya APPI untuk sepakbola Indonesia? Jawabnya NOL BESAR. Kita justru bisa menjawab ketika ditanya: Apa yang sudah diberikan PSSI untuk si **, si ** dan si-si lainnya yang ada di APPI) dalam tulisan tersebut, mengatakan telah memberikan sumbang sih bagi sepakbola Indonesia.

Secara pribadi, saya kok malah melihat catatan tersebut sebagai bentuk provokasi (propaganda) si Om kepada klub-klub, agar memusuhi para pesepakbolanya. Si Om dan kelompoknya terkesan takut kehilangan dukungan dari klub yang sejatinya sependapat dengan para pesepakbola, yang dalam hal ini sama-sama menginginkan untuk segera digulirkannya liga, dan bukan sekedar turnamen.

Mengapa saya katakan demikian, karena dalam catatan yang berjudul “Pemain Itu Ada, Jika Klub Ada. Boikot Alat Politik ?”, si Om tidak mencantumkan penjelasan yang mendukung teori mengenai mengapa “Pemain Itu Ada, Jika Klub Ada”.

Mengapa si Om lebih menitikberatkan catatannya dengan menyerang Individu-individu pengurus APPI, daripada menyentuh penjabaran dari teori yang Ia jadikan sebagai judul tulisan? Ya karena si Om sebenarnya bukanlah orang yang bodoh, walaupun melalui catatan tersebut kita juga dapat mengukur, jika ternyata beliau juga tak sepandai yang kita bayangkan.

Dan oleh karena menurut saya si Om bukanlah orang yang bodoh, maka saya kok yakin jika di lubuk hati si Om yang paling dalam, beliau juga tahu jika saya atau kami (APPI) akan dengan mudah menjawab semua pertanyaan, argumentasi, serta penilaian yang beliau sampaikan dalam catatannya tersebut.

Akhir sekali, inilah dilemanya menjadi pemain ditengah pusaran konflik kepentingan dari kedua kubu. Setiap kali pemain mengambil sikap yang dianggap menguntungkan pihak pertama, maka pihak kedua akan dengan mudah akan berkata “Pemain menjadi alat politik pihak pertama”, demikian juga sebaliknya.

Bagi saya sederhana saja. Selama APPI benar-benar memperjuangkan apa yang menjadi amanah dari para pesepakbola profesional di Indonesia, ya maju terus. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Cita-cita untuk melihat para pesepakbola Indonesia lebih dihargai dimasa yang akan datang, jauh lebih penting dari sekedar gangguan yang skalanya remeh-temeh seperti ini.

Orang bijak berkata, jangan sekali-kali merespon sesuatu atau mengambil keputusan dalam keadaan emosi, karena yang kemudian terlihat adalah kelemahanmu sebagai sebuah pribadi.

bepe, 20 January 2016

NEWS AND UPDATES

Mind The Gap

“Ketika seorang atlet sepakbola berusia 20 tahun, mereka bisa melakukan apa saja dalam sepakbola, namun …

Read More